Peran Sungai Dalam Perspektif Budaya Maritim, Ekonomi Dan Kesejahteraan Masyarakat

Opini

Oleh : Dr. H. Bambang Istianto, M.Si*


LATAR BELAKANG

Indonesia  sebagai negara kepulauan yang jumlahnya mencapai  17  ribuan lebih dengan hamparan laut yang sangat luas dan didalam daratan mengalir sungai sungai yang berkelok kelok dari pegunungan  dan dataran tinggi  kemudian bermuara di lautan. 

Sungai di Indonesia  terdiri dari sungai  besar dan  sedang serta kecil sebagai anak sungai   merupakan potensi yang bisa dikembangkan baik dari aspek ekonomi maupun sosial budaya dan politik. Menurut catatan Siregar (2012)  sungai sungai besar yang memiliki potensi ekonomi sebagai moda transportasi (water way) terdapat lebih dari 50 sungai yang dapat dilayari.

Panjang sungai sungai besar di Indonesia yang dapat dilayari lebih dari 25 ribu kilometer. Misalnya di Kalimanatan mencapai lebih dari 15.000 km, di Sumatera lebih dari 3000 km, di Papua lebih dari 5000 km, di Sulawesi lebih dari 2000 km dan di Jawa lebih dari 1.500 km. Disamping itu pembahasan tentang sungai memiliki dimensi yang sangat  luas.  

Sungai merupakan sumber inspirasi membangun peradaban dan menjadi  sumber kehidupan mannusia.   Bahkan ketika manusia tersesat di hutan belantara jika menemukan sebuah sungai maka menjadi  petunjuk bahwa dalam wilayah terdekat dipastikan ada kehidupan manusia. Pendek kata sungai tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia.

Kedekatan masyarakat Indonesia yang menyatu dengan sungai dan juga laut tertanam nilai nilai bahari atau kemaritiman. Sebagian besar anak anak Indonesia sudah terbiasa dengan sungai sehingga mereka disamping bisa berenang juga memiliki keberanian dalam mengarungi sungai atau laut.

Akan tetapi seiiring dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat Indonesia justru terlihat pardoksal dimana keberadaan sungai sungai baik besar, sedang dan kecil telah mengalami kerusakan yang semakin parah. Misalnya sungai SIAK di Propinsi Riau yang dahulu memiliki kedalaman mencapai 30 meter saat ini mengalami pendangkalan tinggal sedalam 18 meter.

Demikian pula sungai Musi di Palembang, Ciliwung di Jakarta dan sungai Kapuas di Kalimantan Barat mengalami pendangkalan akibat penumpukan sampah  organik maupun non organik. Seperti diketahui bersama bahwa penyebab kerusakan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) baik di hulu maupun di hilir akibat ulah manusia yang sudah mulai kurang peduli terhadap eksistensi sungai sebagai sumber kehidupan.

Berbagai macam tindakan manusia baik yang terlibat langsung dengan dinamika pembangunan maupun akibat tekanan kehidupan yang semakin meningkat sehingga tidak ada pilihan kecuali memanfaatkan sungai tidak dengan semestinya. Menurunnya kualitas sungai disamping karena eksplorasi tambang dan hasil hutan yang kurang didukung dengan melakukan konservasi alam dan juga pembuangan sampah dan limbah di sungai menambah hancurnya fungsi sungai bagi kehidupan manusia.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika dewasa ini sungai justru menjadi sumber bencana banjir. Kondisi sungai saat ini sudah menjadi rutinitas setiap musim penghujan menjadi malapetaka bagi penduduk yang berada disekitar sungai. Misalnya sungai Ciliwung di Jakarta, Cisadane di Banten, Citandui di Jawa Barat, Bengawan Solo di Jawa Tengah setiap tahun  banjir menggenangi wilayah kota kota yang dilewati sungai mengalir sampai bermuara ke  lautan.   

Oleh sebab itu harus ada gerakan nasional untuk melakukan tindakan yang revolusioner dalam mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber kehidupan manusia yang beradab dan sekaligus sejahtera.

Membangun Budaya Maritim Melalui Sungai

Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke  terbentang ribuan pulau bisa menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terlepas  dari akar budaya kemaritiman bangsa Indoesia secara turun temurun. Sebutan negara maritim seolah bangkit kembali ketika Presiden Joko Widodo mengemukakan gagasan Tol Laut yang merupakan kosakata baru dalam kamus transportasi.

Membangun koneksitas antar pulau melalui perairan laut dan juga sungai sebagai langkah strategis dalam upaya meningkatkan kapasitas ekonomi antar wilayah secara terpadu, adil dan merata. Budaya maritime yang lahir dari warisan nenek moyang sebagai perwujudan kearifan dalam merespon terhadap pentingnya fungsi sungai dan laut untuk membangun peradaban bangsa.

Melalui gagasan pembangunan Tol Laut menjadi trigger atau pemicu bangkitnya budaya maritime bangsa Indonesia. Penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta merupakan potensi yang sangat besar jika di dayagunakan mengelola wilayah lautan Indonesia dimana 75 %  wilayah Indonesia adalah berupa lautan dan perairan sungai.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa “ peradaban sungai adalah peradaban yang menyangga teritori daratan dan laut. Oleh sebab itu dalam khasanah budaya di Indonesia dikenal memiliki dua budaya yang sudah lama saling berinteraksi yaitu “budaya daratan atau pedalaman dengan budaya pesisir”.

Kedua unsur budaya tersebut saling melengkapi dalam upaya membangun peradaban Indonesia kini dan  kedepan. Karakter budaya daratan dan pesisir pada kenyataannya telah menyatu dan  bahu membahu membangun keindonesian yang merdeka, adil dan beradab. Para elite politik dan negarawan sudah terbukti berasal dari kedua budaya tersebut. 

Dengan demikian gagasan membangun negara maritime atau poros maritim dunia sudah barang tentu harus berpijak pada nafas dan jiwa kedua unsur budaya tersebut. Artinya pembangungan negara maritime sebagai paradigma yang tepat bagi negara kepulauan seperti Indonesia harus diimbangi dengan pembangunan wlayah daratan sebagai penarik garis koneksitas simpul simpul laut  yang menyebar keseluruh pelosok wilayah tanah air Indonesia.

Oleh sebab itu mewujudkan ide besar diatas perlu melakukan tindakan dengan menetapkan langkah langkah strategis yaitu; pertama; membangun dan mengembangkan bentuk peradaban sungai . Adapun bentuk peradaban sungai yaitu antara lain; memfungsikan sungai sebagai satu kesatuan nilai ekonomi dan sosial buadaya.

Misalnya sungai menjadi wahana ekowisata, sungai sebagai moda transportasi, sungai sebagai wahana interaksi manusia dan pertukaran barang barang kebutuhan hidup sehingga terbentuk “pasar apung”, sungai sebagai sumber pengelolaan air bersih  dan sebagai pembangkit tenaga listrik. Disamping itu sungai dapat menjadi arena pementasan budaya dan sebagai sarana olah raga.

Demikian pula sungai merupakan ekosistem yang dapat menjaga lingkungan kehidupan manusia. Artinya sungai berfungsi membangun bentuk peradaban yang menjadi arah bagi kehidupan manusia yang lebih sempurna.

Kedua; bentuk peradaban sungai sebagai salah satu bagian dari pada membangun peradaban maritim harus terus dikembangkan, dipelihara agar budaya maritime yang mulai memudar harus terus dibangkitkan. Potensi ekonomi sungai dan laut yang sangat besar tanpa didukung oleh budaya maritime yang tangguh maka bangsa Indonesia akan kehilangan potensi kekayaan laut.

Pencurian ikan atau disebut illegal fishing yang selama ini telah menyedot ikan bernilai triluan rupiah oleh negara lain disebakan oleh peradaban dan budaya maritime bangsa Indonesia yang lemah. Ketiga; menerapkan strategi yang tepat dalam membangun keseimbangan antara peradaban sungai daratan dengan peradaban pesisir.

Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa interaksi kedua paradaban sungai daratan dan pesisir pantai yang selama ini hidup di wilayah Indonesia dari Sabang sampai Mereauke telah terjalin lama. Membangun koneksitas infrastruktur antara sungai, laut dengan daratan merupakan tantangan besar bangsa Indonesia.

Pembangunan infrastruktur kedua sektor tersebut selama ini belum mencapai titik keseimbangan yang saling terpadu dan terkoneksi. Pembangunan kemaritiman yang kuat dengan didukung oleh koneksitas yang menyambungkan wilayah daratan dan lautan mampu menggerakan roda perekonomian nasional yang efisien dan efektif sebagai fondasi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Keempat; membangun peradaban maritim guna mendukung poros maritime dunia diperlukan sinkronisasi dan integrasi regulasi bebarapa sektor terkait. Linkage regulasi antar sektor yang terkait guna mendukung skenario penyusunan masterplan, renstra dan renacana induk yang terintegrasi dalam memperkuat pembangunan poros maritime melalui stratgi pembangunan Tol Laut.

Sinkronisasi regilasi yang harus dilakukan antara  lain sektor transportasi, pekerjaan umum, industri, ristek dan perdagangan. Keempat langkah strategis dapat menjadi agenda kebijakan dalam membangun dan mewujudkan negara maritim.    

 Pemanfaatan Sungai Untuk Kepentingan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat

 Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa sejak jaman dahulu kala  sungai  tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Jika suatu wilayah dilewati sungai maka sudah dipastikan bahwa manusia akan memanfaatkan sungai tersebut sesuai dengan kepentingannya. Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup manusia, mereka memanfaatkan sungai untuk mandi, memelihara ikan, mengambil air untuk mengairi sawah atau kebunnya dan untuk moda transportasi.

Seperti diketahui bahwa potensi ekonomi pada sungai dan laut sangat besar. Dalam catatan sebuah lembaga UNCTAD tahun 2010 menyatakan “ sekitar 45 % dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan didunia dengan nilai US$ 1.500 trilun per tahun diangkut melalui laut Indonesia. Oleh sebab itu era kejayaan maritim yang sedang dibangkitkan lagi oleh pemerintah diharapkan dapat merebut kembali porsi potensi ekonomi yang besar tersebut melalui kekuatan ekonomi nasional.

Pemanfaatan sungai dan laut sebagai sarana dan prasarana transportasi menjadi pilar utama pembangunan infrastruktur transportasi. Menurut Susantono (2009) dikatakan bahwa “sebagai suatu jenis moda angkutan  dalam sistem transportasi, transportasi sungai memiliki karakter yang khas yang berbeda dengan moda angkutan lainnya terutama unggul dengan biaya yang murah.

Pendapat pakar transportasi tersebut dapat menjadi rujukan bahwa potensi sungai jika dimanfaatkan sebagai moda transportasi pada kenyataannya memiliki keunggulan dalam hal biaya yang lebih murah dan memiliki karakter yang berbeda dengan moda angkutan lainnya. Bahkan menurut Junaidi Ali (2014) memberikan pandangan yang lebih luas yaitu; “pembinaan kemandirian masyarakat lapisan bawah yang berada dalam kawasan hutan terutama penguatan ekonomi masyarakat dapat dilakukan melalui pengebangan perdesaan yang terpadu dengan penyediaan jaringan transportasi yang dapat memberikan kemudahan akses dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan Pola Pengelolaan Wilayah Sungai (WS) secara terpadu selain mempertimbangkan faktor biofisik dari hulu sampai hilir juga perlu mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, kelembagaan dan hukum.

Dengan kata lain pengelolaan wilayah sungai terpadu diharapkan dapat melakukan kajian entegratif dan menyeluruh terhadap permasalahan yang ada, pemanfaatan dan konservasi termasuk pengembangan transportasi sungai “.

Pandangan  Ali (2014) dalam perspektif makro menempatkan sungai sebagai bagian dari sistem dan sub sistem yang lain yakni mengelola sungai harus lebih terpadu dan komprehensif. Melalui program pengembangan “Pola Pengelolaan Wilayah Sungai” potensi sungai diarahkan menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan mulai dari hulu di kawasan hutan sampai hilir di wilayah perkotaan. Dengan pengeloaan terpadu tersebut disamping dapat dikembangan sebagai “transportasi sungai” juga  sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan  sehingga biofisik sungai masih terjaga dari hulu sampai hilir.

Idealisme tersebut memang akan menghadapi tantangan yang berat dengan melihat kondisi saat ini sungai mengalami degradasi yang luar biasa. Sebelum membahas tentang sungai dalam perspektif  yang luas untuk menambah wawasan  mengenai seluk beluk sungai terlebih dahulu dikemukakan jenis jenis sungai. Menurut PP 38 Tahun  menjelaskan beberapa jenis sungai misalnya sungai menurut jumlah air yaitu sidebut “sungai permanen, sungai periodik, sungai episodic dan sungai ephemeral.

Dalam konteks pembahasan sungai sebagai moda transportasi maka sungai yang dapat menjadi wahana transportasi sungai yaitu jenis “sungai permanen”.  Adapun yang dimaksud sungai permanen yaitu sungai yang debet airnya sepanjang tahun relatif  tetap.

Contoh; sungai Kapuas, Kahayan, Barito, Mahakan di Kalimantan. Dungai Musi, Batanghari, Indra giri dan Siak di Sumatera. Dengan demikian kajian ssungai dalam perspektif ekonomi dan kesejahteraan masyarakat maka perlu diidentfikasi permasalahan utama yang sedang dihadapi. Peta permasalahan sungai sebagai potensi ekonomi dapat diindentifikasi yaitu pertama; terjadinya proses pendangkalan sungai mulai dari hulu sampai hilir, contoh sungai Siak di Riau  semula kedalaman mencapai 30 meter saat ini mengalami pendangkalan sampai menjadi 18 meter.

Kedua; sungai menjadi tempat pembuangan sampah, kesadaran masyarakat yang rendah terhadap peran dan fungsi sungai bagi kehidupan maanusia mendorong memperlakukan sungai tidak semestinya, misalnya nutk tempat pembuangan sampah.

Contoh sungai Ciliwung diJakarta, sungai Siak di Riau saat ini dipermurkaan sungai sudah dpenuhi sampah. Ketiga; sungai yang melewati kawasan industri sungai menjadi saluran pembuangan limbah industri . Keempat; Daerah aliran sungai (DAS) dan bantaran sungai banyak yang sudah menjadi tempat pemukiman penduduk. Kelima; eksplorasi tambang dan industri kayu di sekitar hutan berpotensi merusak hulu sungai yang sudah sering menyebabkan banjir bandang misalnya di Langkat Sumatera Utara.

Berdasarkan identifikasi masalah diatas sudah dipastikan menghadapi tantangan berat dalam konteks pemanfaatan sungaiuntuk pengembangan moda transportasi.  Oleh karena sebagian wilayah Indonesia belum seluruhnya dilalui jalan raya maka transportasi sungai menjadi andalan utama. Untuk itu akan disebutkan beberapa sungai yang sangat potensial untuk dikembangkan  sebagai moda transportasi sungai.

Adapun  sungai dan wilayahnya yang selama ini menjadi moda transportasi sungai yaitu pertama;  sungai Mamberamo merupakan sungai terbesar di Papua sebagai salah satu sungai yang merupakan alternatif moda transportasi yang efisien, efektif dan murah. Sungai ini sebagian besar melintasi kabupaten Mamberamo Raya dimana kabupaten Mamberamo masih berupa hutan dan belum ada jalan penghubung antar desa. Jumlah penduduk kabupaten Mamberamo sebanyak 20.345 dari data sensus tahun 2010 dengan tingkat kepadatan 2 jiwa per km2 dengan luas wilayah 23.813,91 km2 (sumber; Ahmad Andi Rif’an, 2014 ).

Kedua; sungai Tallo di kota Makasar Sulawesi Selatan, sungai Tallo membelah kota Makasar dan memanjang dari arah tenggara ke barat laut kota Makasar. Memiliki lebar  kurang lebih 1 km kiri kanan alur sungai sepanjang kurang lebih 30 km. Kota Makasar terbelah menjadi dua yaitu Makasar bagian timur dan Makasar bagian barat daya. Hulu sungai Tallo berada di kabupaten Maros dan bermuara di Selat Makassar. Sungai Tallo memiliki potensi sebagai moda transportasi angkutan barang dan container (sumber; Nur Syam As.2014 ).

Ketiga; Sungai Musi adalah sungai yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang 750 km. Sungai Musi dipakai sebagai sarana transportasi sejak jaman kerajaan Sriwijaya. Akan tetapi kondisinya saat ini semakin memprihatinkan karena terjadi pendangkalan terus menerus. Dengan kedalaman 15 meter saja sungai musi bisa dilayari atau dilintasi kapal besar dan perahu motor, namunsaat ini kedalaman hanya 7 meter sehingga kapal Pusri pun mengalami kesulitan berlayar di sungai Musi bahkan anak sungai Musi sudah dipenuhi dengan sampah (sumber; Maywuha Fitriana,2014).

Ketiga contoh diatas menjadi tantangan bagi pemerintah maupun para steakholder yang memiliki perhatan untuk mengembangkan dan memanfaatkan sungai sebagai urat nadi perkembangan koridor ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Indonesia.     

Kesimpulan

1.       Peran sungai sangat penting dan strategis bagi kehidupan umat manusia karena sungai dapat memberikan manfaat terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat dan menjanjikan kehidupan yang layak jika sungai dikelola dengan baik.

2.       Peran sungai dalam perspektif  membangun budaya maritime dan untuk kepentingan ekonomi pada kenyataanya menghadapi kendala yang sangat kompleks yaitu terjadinya degradasi sungai yang kian hari semakin massif .

3.       Peluang memanfaatkan sungai sebagai sumber kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera cukup terbuka lebar dengan arah pembangunan kedepan yang dicanangkan pemerintah yaitu membangun poros maritime dunia dan dibentuknya kelembagaan pemerintah yaitu Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber daya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Junaidi, 2014, Pembangunan Berkelanjutan Jaringan Transportasi Dalam Kawasan Hutan (Perencanaan Angkutan Sungai Muara Situlen –Singkil,Propinsi Aceh, Penerbit Badan Litbang Perhubungan Kementrian Perhubungan.

Andi Rif”an,Achmad, 2014, Konsep Sistem Angkutan Sungai dan Laut  Terintegrasi di Kabupaten Mamberamo Raya, Propinsi Papua Untuk Meningkatkan Kesejahteraan masyarakat

Fitriana, Mywuha,2014, Merubah Paradima Masyarakat Terhadap Sungai Sebagai Tempat Pembuangan Sampah, Penerbit Balitbang Perhubungan Kementrian Perhubungan

Syam As,Nur, 2014, Pemanfaatan Sungai Tallo sebagai Media Transportasi Air Angkutan Bahan Galian Dan Kontainer Untuk Mengurangi Beban Lalu Lintas Jalan di Kota Makassar, Penerbit Badan Litbang Perhubungan Kementrian Perhubungan

Susantono, Bambang. 2009, 1001 Wajah Transportasi Kita, PT. Gramedia Pustaka Utama , Jakarta

Siregar, Muchtarudin, 2012, Beberapa  Masalah Ekonomi dan Manajemen Transportasi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

*Penulis adalah Direktur Eksekutif LSM Sapulidi dan Dosen Pada Sekolah Tinggi Transortasi Darat Bekasi, Jawa Barat dan Dosen pada Institut Ilmu sosial Dan Manajemen STIAMI Jakarta. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *