Matinya Politik Ideologi

Politik

Sekitar abad 19-an Politik Ideologi menjadi episentrum bagi Negara-negara besar maupun negara yang baru merdeka. Negara tanpa ideologi seolah kehilangan Ruhnya, artinya ideologi merupakan jiwa dan nyawa bagi kehidupan suatu negara.

Pada waktu itu dua kutub ideologi besar yang seolah-seolah berhadapan satu sama lain yaitu ideologi Liberal Kapitalis dan Komunis-Sosialis. Bahkan di Indonesia, para Founding Fathers antara lain Bung Karno mencoba merumuskan gagasan ideologi yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx, Hegel dan Engel yang disebut “Marhaenisme” diuji cobakan atau di praktekkan sebagai dasar ideologi “Partai Nasionalis Indonesia” (PNI).

Kemudian di masa awal kemerdekaan Indonesia, PNI menjadi partai yang cukup kuat dan berpengaruh terhadap kebijakan Pemerintah di masa kepemimpinan Pemerintahan Ir. Soekarno. Meskipun menjelang Indonesia merdeka ketika BPUPKI dan kemudian menjadi PPKI Bung Karno bersama dengan Moh. Yamin dan Surpomo merumuskan falsafah negara dan dasar negara yang selanjutnya oleh Bung Karno disebut “Pancasila”.

Ideologi “Pancasila” sebagai ideologi negara Indonesia mampu sukses membawa Indonesia bersatu ditengah-tengah masyarakat yang majemuk, plural atau heterogen tapi bisa dipersatukan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Pada waktu itu “Politik Ideologi menjadi “sumbu” yang mampu memberikan “Inspirasi”, semangat dan sumber energi dalam membangun bangsanya menuju pada cita-cita “kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur baik lahir maupun batin.

Namun dalam perkembangannya ditengah pergaulan dunia, pertarungan global ideology besar antara liberal-kapitalis yang diwakili oleh negara Amerika Serikat, Eropa, dan Inggris berhadapan dengan Komunis-Sosialis yang diwakili oleh Uni Sovyet, membawa ketegangan dan bahkan konflik yang menyeret negara lain berada pada perang antar negara bahkan perang saudara keberadaan “ideologi Pancasila” berada pada Tarikan dua kutub tersebut, realitanya “Ideologi Pancasila” berada di persimpangan jalan pada masa era orde lama di bawah kepemimpinan Bung Karno, pengaruh “Komunis-Sosialis” cukup kuat dan ketika pada masa orde baru pengaruh Liberal Kapitalis sangat kuat, sehingga secara perlahan dan pasti “Pancasila” mulai berkurang sinar ruhnya.

Surutnya pengaruh politik ideologi pada kenyataannya terjadi pada ideologi Komunis – Sosialis yaitu menjelang berakhirnya abad 20 (1986 – an) di Uni Sovyet ideologi Komunis – Sosialis diganti dengan gerakan “Prestorika” Gorbachev yang merupakan lonceng kematian ideologi Komunis –Sosialis, maka pada saat itu Negara-negara yang tergabung dalam Uni Sovyet dan bahkan berpengaruh ke negara “Yugoslavia” memisah diri dan menyatakan “merdeka” sehingga praktis negara Adidaya tersebut bubar, kembali menjadi negara “Rusia” sebagaimana pada tahun 1918 yang lalu. Berakhirnya pertarungan ideologi besar tersebut yang dimenangkan oleh ideologi Liberal-Kapitalis diabadikan dalam tulisan “Francis Fukuyama” (1994) dalam Buku “ The End History In The Last Man”.

Memasuki abad 21 yang disebut abad Milinium pemegang kekuasaan dunia dibawah pengaruh ideologi “Liberal Kapitalis” dibawah kendali “Amerika Serikat”. Akan tetapi ketika “krisis global” yang melanda Amerika Serikat di tahun 2008 dan bahkan sudah merambah ke negara Eropa lainnya, merupakan fenomena yang menarik “apakah tanda-tanda lonceng kematian akan terjadi pada ideologi Liberal Kapitalis juga, yang akan mengalami nasib yang sama dengan keruntuhan ideologi “Komunis”.

Sedang dilain pihak Negara-negara yang menganut ideologi Komunis-Sosialis seperti Brazil, Rusia, dan China ditambah India, justru sudah mulai bangkit kemampuan ekonominya menjadi negara yang maju yang mampu melepaskan diri dari bantuan IMF dan Bank Dunia. Bagaimana posisi ideologi Pancasila, dalam perkembangan masih tetap berada dipersimpangan jalan diantara dua kutub tersebut.

Pergeseran kutub ke kiri dan ke kanan kemudian bergeser ke kiri kembali, bukankah hal yang aneh, karena sesungguhnya hanya pergantian peran dan tugas saja, yang menentukan adalah sang sutradara atau dalang nya. Siapa sang sutradara penguasa dunia sesungguhnya ?

Penulis : DR. H. Bambang Istianto HP, S.Ip., M.Si Direktur Eksekutif LSM Sapulidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *